Minggu, 21 Agustus 2016

Berawal Dari Jendela (Part 3)



*Kembali ke Doni

Keesokan harinya saat jam pulang sekolah, Doni pulang dengan mengendarai motornya. Sempat terbersit dalam pikirannya mengajak teman perempuan untuk pulang bersamanya. Akan tetapi, ia tidak tahu ingin mengajak siapa. Bisa dibilang Doni iri dengan anak laki-laki disekolahnya, sebab masing-masing dari mereka selalu pulang bersama pacarnya.
Karena tidak ada yang dapat diajak pulang bersama, akhirnya dengan berat hati ia pulang sendirian. Saat ia mengendarai motornya dengan pelan, dari belakang ia seperti melihat teman perempuan yang satu sekolah dengannya sedang berjalan sendirian. Karena penasaran, ia pun mempercepat laju motornya untuk mengetahui siapa perempuan itu. Kalau dilihat dari belakang, sepertinya perempuan itu tidak asing baginya. Sekarang motor Doni sudah sejajar dengan perempuan itu, dan ketika Doni menoleh ternyata perempuan itu adalah Amanda.
“Amandaa..” panggil Doni
Mereka berdua berhenti sejenak.
“Lohh Don, kok kamu baru pulang” ucap Amanda
“Hehe.. Aku pulang belakangan. Man, kok kamu pulang sendirian. Emang pacar kamu kemana kok ngga jemput ?”
“Haahh.. Pacar ? Pacar dari Hongkong. Jangan sok tau kamu Don. Aku ngga punya pacar.”
“Masa sih Man ? Aku ngga percaya dah, masa cewek secantik kamu ngga punya pacar.. Hehehe…” ledek Doni
“Yeehh.. Emang muka aku ada tampang bohong apa Don”
Dalam hati, Doni bersorak-sorak gembira karena ia masih berpeluang besar untuk memiliki Amanda.
“Iya.. Iya.. Aku cuma bercanda doang.. hehehe.. Yaudah Man, bareng aku aja pulangnya kebetulan aku juga naik motor sendirian. Gimana ?” tanya Doni
“Gimana ya aku takut ngerepotin kamu Don”
“Ngga ngerepotin kok Man. Masa cewek secantik kamu aku biarin jalan sendirian. Ntar takut digodain sama kucing garong.” ledek Doni lagi
“Hahaha.. Kamu bisa aja Don.” kata Amanda
“Hehehe.. Aku bercanda. Ayo Man, mau kan ?” ujar Doni kembali menawarkan tumpangan kepada Amanda
“Iya deh, aku mau”

Doni senang sekali karena bisa pulang bareng Amanda, ya walaupun masih berstatus teman. Yang terpenting ia masih berpeluang besar memiliki Amanda. Diperjalanan mereka ngobrol berbagai macam hal dari tentang pelajaran, pertemanan, dll. Mungkin bisa dibilang ini termasuk “pdkt” alias pendekatan. Akhirnya mereka sampai, Amanda berterimakasih kepada Doni atas tumpangannya. Doni berpikir ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Amanda. Mungkin terlalu cepat untuk mengatakannya, namun ia pikir inilah waktunya.
“Eeee.. Man, aku boleh ngomong sesuatu ngga ?” ujar Doni
“Yaudah tinggal ngomong se..su..atu.. udah selesai deh.. hehe..” canda Amanda
“Aku serius Man.. A..Aku suka sama kamu semenjak kita pertama ketemu, semua yang aku lakuin itu semata-mata biar deket sama kamu. Kamu mau ngga Man jadi pacar aku ?”ujar Doni dengan muka serius
(Amanda terkejut, dan ia terdiam sejenak)
“Gimana ya Don.. Maaf ya, aku ngga bisa ngasih jawaban sekarang. Kasih aku waktu ya Don” ucap Amanda
“Yaudah ngga apa-apa Man, aku ngerti kok. Tapi usahain jangan lama-lama ya Man”
“Udah dulu ya Don. Aku masuk dulu”
Doni agak lemas karena ia berharap Amanda akan langsung menjawabnya, akan tetapi harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.

Hari demi hari Doni lalui dengan harap-harap cemas karena Amanda belum memberikan jawaban dari pertanyaannya waktu itu. Doni menjadi pesimis ketika semakin hari Amanda semakin menjauh dari dirinya setelah Doni berbicara tentang perasaan yang sebenarnya kepada Amanda. Entah apa penyebabnya namun itu membuat Doni seperti kehilangan harapan untuk bisa memiliki Amanda. Ketika Doni hendak menuju parkiran untuk mengambil motornya. Tiba-tiba dari belakang terdengar ada suara yang memanggilnya dan ternyata itu Amanda. Doni terlihat senang sekali karena jawaban yang diharap-harapkan akan diutarakan oleh Amanda. Akan tetapi ia harus kembali bersabar karena Amanda akan memberikan jawabannya pada esok sore dilapangan basket sekolah. Doni pun menyetujuinya.
*Keesokan harinya dilapangan basket

Tibalah saat yang ditunggu Doni, ia datang tepat waktu. Ia berpakaian rapi dan wangi. Doni sangat berharap Amanda mau menerima cintanya. Ketika ia datang ke lapangan basket. Doni kaget bukan kepalang karena ada Deni disana.
“Den, lu ngapain disini ?” tanya Doni bingung
“Lah, lu sendiri ngapain disini ?” tanya balik Deni
“Yeee, lu malah balik nanya. Gw kesini mau…”
Ketika Doni belum selesai bicara, tiba-tiba…
“Hai Doni.. Hai Deni..”  (suara Amanda yang datang tiba-tiba)
“Haahh.. Manda..” jawab kaget mereka

Doni benar-benar tidak mengira jadi selama ini Deni juga kenal dengan Amanda. Amanda sengaja mengajak Deni karena secara tidak langsung Doni akan mengetahui bahwa Deni juga menyukai Amanda. Amanda dihadapkan pada dua pilihan, yang mana keduanya sama-sama orang yang baik menurutnya. Ketika mereka saling terdiam karena bingung, Amanda langsung memilih diantara keduanya. Disana juga ada Angel yang sengaja datang untuk menemani Amanda.
“Langsung aja ya, daripada kamu berdua bengong. Mending aku utarain keputusanku aja ya.  O iya sebelum itu, kalian berdua harus ngebelakangin aku.” Ujar Amanda
“Maksudnya apaan Man, kok pake gitu-gitu segala” tanya Doni
“Udah nurut aja, Don” celetuk Deni
“Nah yang aku peluk dari belakang itu berarti yang aku pilih” ucap Amanda
“Oke” (jawab mereka berdua)

Doni dan Deni pun segera membelakangi Amanda. Doni agak pesimis karena harus bersaing dengan temannya sendiri yang bisa dikatakan lebih tampan dibanding dirinya, mungkin saja Amanda akan memilihnya.
Dan tibalah waktunya…

Akhirnya yang dipeluk Amanda dari belakang adalah Deni. Doni pun tertunduk lesu, namun ia harus menerimanya. Doni pun memberikan selamat kepada Amanda dan Deni, lalu ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu walau dengan rasa kecewa yang menyelimutinya saat ini. Akan tetapi ketika Doni baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia dipeluk dari belakang. Lalu ia menengok ke belakang dan ternyata yang memeluknya adalah Amanda. Dan ia pun kaget melihat Deni merangkul Angel.

Belum sempat selesai bicara, Deni pun menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Don, maaf ya kita semua udah ngerjain lu” ucap Deni
“Ngerjain ? Maksudnya apaan sih nih gw ngga ngerti” kata Doni bingung
“Jadi kita bertiga udah kerjasama mau ngerjain lu. Ngebuat lu kecewa beberapa saat karena Amanda milih gw. Gw sama Amanda cuma sahabatan doang. Ya gw akuin memang dulu gw pernah suka sama Amanda, tapi kan itu dulu. Sekarang gw lebih milih Angel jadi pacar gw. Hehehe.. Amanda sering cerita banyak ke gw tentang lu. Gw sebenarnya agak kaget ternyata yang lu suka itu Amanda. Sorry ya, sebenernya gw udah tau lu suka sama Amanda. Cuma gw pura-pura ngga tau aja. Hehehe..” jelas Deni
“Wah, berhasil ya lu semua ngerjain gw. Parah lah.. Hahaha..” ucap Doni sambil tertawa. “Eeee.. Jadiii lu mau jadi pacar gw dong, Man ?”

Secara tiba-tiba Amanda berlari ke lorong menuju sebuah kelas. Doni pun kembali bingung, sebenarnya apa lagi yang hendak direncanakan Amanda. Akhirnya Doni menyusul Amanda yang berlari sangat cepat. Pada lorong sekolah terdapat kertas berbentuk panah menempel pada lantai yang menunjukkan arah ke sebuah kelas. Ia pun mengikuti arah panah tersebut. Doni kaget ketika melihat Amanda berdiri di depan kelasnya dengan nyala lilin-lilin kecil berbentuk “love” mengelilinginya ditambah suasana lorong yang agak redup membuat suasana makin amat romantis.
“Man, maksud kamu apa ini semua ?” Tanya Doni
“Udah ikutin aja arah panahnya” jawab Amanda
Doni mengikuti arah panah tersebut dan masuk lah ia ke dalam kelas. Lalu ia duduk di bangku yg biasa didudukinya. Dimeja tersebut ada seikat bunga mawar merah dan dua amplop. Doni membuka amplop yang pertama dan isinya adalah……

Hai kamu yang duduk disana
Apakah kamu mengingat sesuatu saat berada disana
Aku harap kamu ingat ketika untuk pertama kalinya kamu melihatku
Aku sadar kamu sedang memperhatikanku
Mungkin kamu pikir aku tidak melihatnya
Padahal aku juga memperhatikanmu saat kamu lengah
Dijendela itu……
Kita saling mencuri pandang
Dijendela itu……
Semua perasaan ini berawal
Dan semua itu berawal dari jendela

-    Amanda

Lalu Doni menengok kearah Amanda. Dan Amanda pun tersenyum. Ia menyuruh Doni untuk menuliskan apa harapannya ke dalam kertas yang satunya. Ketika Doni selesai menulis, tiba-tiba saja Amanda menghilang. Doni pun bergegas mencarinya seraya membawa bunga yang ada dimeja tadi. Akhirnya Doni menemukan Amanda. Dan sekarang Amanda berdiri dengan sebuah balon udara berukuran sedang, tingginya sekitar  1 meter yang terbuat dari kertas. Amanda menaruh kertas harapannya ke balon udara itu, begitu juga Doni.  Lalu mereka menerbangkan balon udara itu dan memandanginya ke atas sambil tersenyum.

(ilustrasi)

“Semoga impian-impian itu terbang tinggi sama seperti harapan-harapan kita ya” kata Amanda
“Iya semoga saja” jawab Doni sambil tersenyum melihat balon udara yang sudah terbang tinggi
“Don, tadi kamu nulis apa dikertas itu ?” Tanya Amanda
“Aku berharap kamu jadi pacar aku. Kalo kamu nulis apa ?”
“Kalo aku… Aku mau kita sama-sama terus selamanya. Dan aku juga mau kamu panggil akuu……”
“Panggil apa ?” Tanya Doni yang sangat penasaran
“Sayang” jawab Amanda sambil malu-malu.

Doni langsung memberinya bunga yang ia pegang. Dan mereka pun berpelukan.
“Man, kok kamu romantis banget sih. Harusnya kan aku yang romantis.” Tanya Doni dalam keadaan masih berpelukan.
“Ngga apa-apa untuk yang pertama kali aku yang romantis. Besok-besok kamu lah.. Hehe…” jawab Amanda pelan.

---The End --- 

Berawal Dari Jendela (Part 2)



Lalu keesokan harinya seperti yang telah dijanjikan kemarin, Amanda akan meminjamkan buku Seni Budaya kepada Doni. Doni berangkat kesekolah dengan perasaan bahagia karena ia akan bertemu Amanda. Sudah terbayang dalam pikirannya bagaimana cantiknya Amanda nanti. Doni bergegas ke kelas dimana Amanda berada, namun ternyata dia belum datang. Lalu Doni kekelasnya dengan perasaan yang agak kecewa, namun ia akan ke kelas Amanda lagi pada jam istirahat. Doni tidak sabar menunggu jam istirahat. Jam istirahat pun tiba, Doni bergegas ke kelas Amanda. Jantungnya berdegup kencang tak menentu. Lalu ia langsung memanggil Amanda. Dan Amanda langsung keluar dengan membawa buku Seni Budayanya.
“Ini Don bukunya” ujar Amanda sambil tersenyum
“Iya aku pinjem dulu ya” jawab Doni sambil membalas senyuman Amanda
“O iya Man… e..e..e..” kata Doni dengan perasaaan gugup
“Ada apaan Don ? Kok kaya gugup gitu. Ngomong aja” kata Amanda
“Eee… A..A..Aku boleh minta nomer telepon kamu ngga Man ? Soalnya takut ada catatan aku yang ngga lengkap lagi. Ntar aku minjem ke kamu. Hehe..” ujar Doni yang semakin gugup
“Ya ampun, nanya gitu doang pake gugup segala. Nih aku tulisin nomer aku.”
“Oke deh makasih ya Man” (Doni tersenyum kepada Amanda)
“Iya sama-sama Don” (Amanda membalas senyuman Doni)

Doni kembali ke kelas dengan perasaan senang bukan kepalang, yang pertama karena ia berhasil untuk meminta nomer telepon Amanda. Dan yang kedua, ia mendapat senyum manis dari Amanda. Deni yang penasaran dengan Doni yang senyum-senyum sendiri, akhirnya ia pun bertanya kepada Doni.
“Don, lu akhir-akhir ini aneh dah, lu sering senyum-senyum sendiri. Terus yang lu pegang itu buku siapa ?” (Deni penasaran)
“Ngga ada apa-apa Den, jangan kepo lah. Ini buku temen gw Den.” (Doni mengelak)
“Iya-iya dah” (Deni agak kesal)

Jam pulang pun tiba, Doni bergegas pulang, sementara Deni pulang belakangan. Ketika Deni pulang, tak sengaja bertemu Angel dan tak diduga ia juga bertemu Amanda. Mereka bertiga berbincang-bincang. Deni pun meminta nomer telpon Amanda, yang menurutnya akan berguna jika ada tugas untuk teman berdiskusinya. Amanda pun memberikan nomer telponnya. Lalu Deni menawarkan tumpangan Amanda untuk pulang bareng karena rumah mereka searah. Karena kalau Amanda pulang dengan Angel, rumah mereka beda arah. Dan Amanda setuju untuk pulang bersama Deni.

Diperjalanan, mereka berbincang berbagai macam hal. Setelah sampai, Amanda langsung berterimakasih kepada Deni dan sempat memberikan senyuman pada Deni sebelum masuk rumahnya. Deni pun membalas senyuman Amanda. Entah mengapa, ia merasakan ada getaran yang aneh seperti getaran cinta. Ia masih bingung apakah ia benar-benar menyukai Amanda.

Pada malam hari saat Amanda sedang belajar tiba-tiba handphonenya berdering. Ternyata ada yang menelponnya, akan tetapi nomer si penelpon tidak terdapat dikontak Amanda. Karena penasaran, ia pun mengangkatnya.
“Halo, maaf ini siapa ya ?” Tanya Amanda
“Eemm.. Coba tebak siapa aku ?” jawab si penelpon
“Siapa ya.. Aku ngga tau.. Kamu siapa sih.. Kalo sampai hitungan ke 3 ngga dijawab, aku tutup nih telponnya” ujar Amanda dengan nada mendesak si penelpon
“Coba tebak lah” ujar si penelpon yang masih tidak mau mengaku juga
“1……… 2………” desak Amanda
Tidak sampai hitungan ke 3, si penelpon akhirnya mengakui siapa dirinya
“Iya… Iya… Aku Doni… Maaf ya udah bikin kamu kesel… Hehe..” jawab Doni
“Ya ampun Doni, untung aja ngga aku tutup tadi. Ada apa Don ? Kamu mau minjem buku ?” ujar Amanda
“Ng..Ng.. Ngga Man. Aku Cuma mau ngobrol aja. Hehehe,, Kamu lagi ngapain ?” tanya Doni
“Eemm.. Aku lagi belajar Don” jawab Amanda
“Waduh.. Aku ganggu kamu dong ya ?” ujar Doni
“Engga ganggu kok Don. Aku udah belajar dari tadi, jadi udah belajar banyak. Kamu sendiri lagi ngapain ?"
“Aku lagi nelpon kamu.. Hahaha..” canda Doni
“Hahaha.. Lu kamu Don”
Lalu mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal. Tanpa mereka sadari, ternyata sudah larut malam.
“O iya udah dulu ya Don. Soalnya aku udah ngantuk.”
“Iya Man. Maaf ya aku kelamaan nelponnya. Oke deh, Good Night ya Man.”
“Night juga Don.”

Doni senang sekali karena ia sangat tidak menyangka dapat berbicara dengan Amanda lewat telpon. Ia merasa seperti sedang bermimpi saja, padahal ia belum tidur. Ia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang kejadian tadi.

Keesokan harinya saat jam istirahat, tanpa sengaja Deni bertemu dengan Angel di depan kelasnya. Lalu mereka sedikit berbincang tentang pelajaran. Saat Angel hendak menyelesaikan pembicaraannya karena ia harus pergi ke kantin, tiba-tiba ia terpleset karena lantainya agak licin. Ketika ia hampir jatuh ke belakang, Deni refleks memegang tubuh Yuvia, supaya ia tidak jatuh. Lalu mereka berdua saling bertatapan seperti adegan romantis difilm-film saja. Dan mereka terdiam sejenak, entah apa yang sedang dipikirkan. Mungkin saja ada getaran cinta yang mereka alami. Lalu Angel tersadar dari lamunannya, dan mengatakan terimakasih kepada Deni. Namun Angel seperti salah tingkah, begitu juga dengan Deni. Dan akhirnya Angel mempercepat langkahnya pergi ke kantin. Deni pun melupakan hal tersebut dan kembali berjalan ke kelasnya.

Saat malam hari, Deni berdiam diri di balkon yang terhubung dengan kamarnya sambil melihat indahnya langit yang bertabur bintang. Ia kembali teringat kejadian yang dialaminya bersama Amanda dan Angel. Deni sangat bingung sebenarnya ia menyukai siapa diantara keduanya.

(Bersambung ke Part 3


Written by : Muhammad Yunan Adjie Pangestu

Sabtu, 20 Agustus 2016

Berawal Dari Jendela (Part 1)



Pada tahun ajaran baru, Doni baru saja masuk SMA lebih tepatnya kelas 10 SMA di Jakarta. Pada hari pertama Doni masuk sekolah, Doni datang agak terlambat. Ia berjalan menyusuri lorong sekolah dengan perasaan tergesa-gesa, Doni mencari namanya dimading agar ia tahu dikelas mana ia berada. Lalu Doni segera menuju kekelas yang dituju yaitu X IPA 3. Akhirnya ia menemukan kelasnya dan duduk paling depan dekat jendela. Ternyata keadaan ruang kelasnya diluar perkiraan Doni. Ruang kelasnya tidak seperti saat di SMP, kelasnya lebih luas, tentunya sangat bersih dan nyaman. Yang berbeda adalah jendelanya lebih rendah, sehingga bisa melihat kelas didepannya dan tentu saja siswa kelas lain yang sedang lewat. Tidak seperti saat SMP, jendelanya agak tinggi sehingga kita perlu berdiri untuk melihat keluar.
Doni disambut hangat oleh teman-teman barunya. Mereka saling berkenalan satu sama lain. Padahal baru saja berkenalan, namun mereka sudah terlihat akrab.

Teman sebangku Doni adalah Deni. Deni bisa dibilang cowok keren terlihat dari gayanya yang cool, sementara Doni biasa-biasa saja tidak ganteng tetapi tidak jelek juga, ya bisa dibilang standar. Deni juga pintar, namun dalam hal ini Doni tidak kalah pintar dari Deni, Doni selalu ranking 1 semenjak duduk di SMP. Kegiatan belajar mengajar pun dimulai, pelajaran pertama adalah matematika dan yang mengajar adalah Pak Sitompul. Ia berasal dari Medan, kesan pertama saat melihatnya adalah ia seorang yang galak, namun ternyata orangnya sangat baik. Ketika mendengarkan Pak Sitompul menjelaskan materi pelajaran, Doni sejenak menengok ke jendela yang rendah itu sambil menghilangkan  rasa kantuk yang melandanya. Kebetulan Doni melihat sekumpulan anak X IPA 4 yang sedang lewat didepan kelasnya dan entah mengapa matanya tertuju kepada seorang perempuan yang cantik, berambut panjang dan alisnya yang tebal.
Mendadak hati Doni berdegup kencang dan matanya tidak bisa berhenti memandangi perempuan tersebut. Walaupun perempuan itu sudah lewat namun ia masih agak melamun. Saat dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba……
“Don, lu ngeliat apaan ? Kok sampe bengong gitu” celetuk Deni
“Eeee… Ga ada apa-apa Den” jawab Doni berusaha menutupi kejadian tadi

Bel istirahat pun berbunyi, pelajaran pun berhenti sejenak. Deni yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Doni, kembali bertanya kepada Doni.
“Don, tadi ada apa sih sebenarnya… Beneran ngga ada apa-apa ?” Tanya Deni dengan muka serius.
“Bener ga ada apa-apa kok…” jawab Doni berusaha meyakinkan Deni, dengan menutupi kejadian yang terjadi seakan-akan tak ada yang terjadi.
“Gw sholat dulu ya Den. Lu mau ikut ?” ajak Doni.
“Gw nyusul aja deh ntar” jawab Deni.

*Setelah beberapa bulan berlalu

Doni berjalan santai dilorong sekolah, tiba-tiba ia malah terpikir oleh perempuan yang ia lihat waktu itu. Setiap hari Doni hanya mampu melihatnya dari jendela kelas dan berharap untuk mendekatinya namun ia masih belum berani. Ketika sedang asyik berjalan tiba-tiba dari kejauhan terlihat perempuan tersebut. Kemungkinan Doni dengannya akan berpapasan tepat didepan kelas Doni. Doni pun bingung harus melakukan apa sebagai langkah awal mendekatinya. Akhirnya Doni punya ide, kebetulan catatan Seni Budaya miliknya masih belum lengkap. Jadi ia akan meminjam buku milik perempuan itu. Dan secara kebetulan juga, guru Seni Budaya mereka sama. Ini kesempatan emas bagi Doni untuk mengetahui nama perempuan itu. Benar saja, mereka bertemu tepat didepan kelas Doni.
“Hai, maaf aku boleh nanya ngga ?” tanya Doni.
“Boleh.. Mau Tanya apa ?” jawab perempuan itu.
“Catatan Seni Budaya kamu lengkap ngga ya ?” Tanya Doni kembali.
“Eemm.. iya catatan aku lengkap.”
“Aku boleh pinjam catatan kamu ngga ? Soalnya catatan aku belum lengkap” ujar Doni.
“Boleh kok.. Boleh.. Kamu mau pinjam kapan ?”
“Kalo bisa sih besok”
“Oke..Oke..Besok aku bawa deh”
“Iya makasih banyak ya” ucap Doni seraya tersenyum
“Iya sama-sama. O iya aku mau ke kantin dulu ya” ujar perempuan itu sambil membalas senyuman Doni
“Iya silahkan”

Doni lupa menanyakan nama perempuan itu. Lalu dia segera menanyakan dengan suara yang agak keras sebab perempuan itu sudah agak jauh meninggalkannya.
“Ehh nama kamu siapa ?” tanya Doni
 “Panggil aja Amanda” jawab perempuan itu

Doni senang bukan kepalang, dunia serasa miliknya dan Amanda. Ketika Doni sedang masuk kelas, Doni tersenyum-senyum sendiri. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi sungguh diluar perkiraannya, ia bisa berkenalan dengan Amanda. Deni yang bingung melihat tingkah Doni, ia bertanya kepada Doni.
“Lu kenapa, Don ? Kok senyum-senyum sendiri ?” tanya Deni penasaran
“Eeee.. Kasih tau ga yaa” ledek Doni
“Kasih tau lah, Don. Gw kepo nih”
“Gw abis ketemu bidadari"
“Haahh.. Bidadari ? Serius kasih tau apa” tanya Deni yang penasaran
“Gw abis kenalan sama perempuan, Dan kalo gw liat-liat perempuan itu kaya bidadari yang jatoh dari langit” ujar Doni dengan percaya diri.
“Ciee..Ciee.. Kenalan sama siapa Don ? Gw juga abis kenalan sama perempuan tadi” ujar Deni
“Kepo yee.. Hahaha..” ledek Doni
Ternyata tanpa sepengetahuan Doni, Deni telah berkenalan dengan Amanda lebih dulu dibanding Doni. Mereka dikenalkan lewat teman Amanda yaitu Angel. Angel juga merupakan teman Deni saat SMP, dan sekarang Angel sekelas dengan Amanda.

*kembali ke Doni

Masih terbayang wajah Amanda dipikiran Doni. Wajahnya yang cantik dan rambutnya yang panjang lurus terurai membuat Doni tidak bisa melupakannya. Yang Doni inginkan sekarang adalah nomer teleponnya. Doni lebih suka memintanya langsung kepada Amanda, daripada harus meminta ke temannya Amanda. Namun Doni harus putar otak untuk memikirkan langkah selanjutnya sebagai usaha mendekati Amanda.

(Bersambung ke Part 2)