*Kembali ke Doni
Keesokan
harinya saat jam pulang sekolah, Doni pulang dengan mengendarai motornya.
Sempat terbersit dalam pikirannya mengajak teman perempuan untuk pulang
bersamanya. Akan tetapi, ia tidak tahu ingin mengajak siapa. Bisa dibilang Doni
iri dengan anak laki-laki disekolahnya, sebab masing-masing dari mereka selalu
pulang bersama pacarnya.
Karena tidak ada yang dapat
diajak pulang bersama, akhirnya dengan berat hati ia pulang sendirian. Saat ia
mengendarai motornya dengan pelan, dari belakang ia seperti melihat teman
perempuan yang satu sekolah dengannya sedang berjalan sendirian. Karena
penasaran, ia pun mempercepat laju motornya untuk mengetahui siapa perempuan
itu. Kalau dilihat dari belakang, sepertinya perempuan itu tidak asing baginya.
Sekarang motor Doni sudah sejajar dengan perempuan itu, dan ketika Doni menoleh
ternyata perempuan itu adalah Amanda.
“Amandaa..” panggil Doni
Mereka berdua berhenti sejenak.
“Lohh Don, kok kamu baru pulang”
ucap Amanda
“Hehe.. Aku pulang belakangan.
Man, kok kamu pulang sendirian. Emang pacar kamu kemana kok ngga jemput ?”
“Haahh.. Pacar ? Pacar dari
Hongkong. Jangan sok tau kamu Don. Aku ngga punya pacar.”
“Masa sih Man ? Aku ngga percaya
dah, masa cewek secantik kamu ngga punya pacar.. Hehehe…” ledek Doni
“Yeehh.. Emang muka aku ada
tampang bohong apa Don”
Dalam hati, Doni bersorak-sorak
gembira karena ia masih berpeluang besar untuk memiliki Amanda.
“Iya.. Iya.. Aku cuma bercanda
doang.. hehehe.. Yaudah Man, bareng aku aja pulangnya kebetulan aku juga naik
motor sendirian. Gimana ?” tanya Doni
“Gimana ya aku takut ngerepotin
kamu Don”
“Ngga ngerepotin kok Man. Masa
cewek secantik kamu aku biarin jalan sendirian. Ntar takut digodain sama kucing
garong.” ledek Doni lagi
“Hahaha.. Kamu bisa aja Don.”
kata Amanda
“Hehehe.. Aku bercanda. Ayo Man,
mau kan ?” ujar Doni kembali menawarkan tumpangan kepada Amanda
“Iya deh, aku mau”
Doni
senang sekali karena bisa pulang bareng Amanda, ya walaupun masih berstatus teman.
Yang terpenting ia masih berpeluang besar memiliki Amanda. Diperjalanan mereka
ngobrol berbagai macam hal dari tentang pelajaran, pertemanan, dll. Mungkin
bisa dibilang ini termasuk “pdkt” alias pendekatan. Akhirnya mereka sampai,
Amanda berterimakasih kepada Doni atas tumpangannya. Doni berpikir ini waktu
yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Amanda. Mungkin terlalu cepat
untuk mengatakannya, namun ia pikir inilah waktunya.
“Eeee.. Man, aku boleh ngomong
sesuatu ngga ?” ujar Doni
“Yaudah tinggal ngomong
se..su..atu.. udah selesai deh.. hehe..” canda Amanda
“Aku serius Man.. A..Aku suka
sama kamu semenjak kita pertama ketemu, semua yang aku lakuin itu semata-mata
biar deket sama kamu. Kamu mau ngga Man jadi pacar aku ?”ujar Doni dengan muka
serius
(Amanda terkejut, dan ia terdiam
sejenak)
“Gimana ya Don.. Maaf ya, aku
ngga bisa ngasih jawaban sekarang. Kasih aku waktu ya Don” ucap Amanda
“Yaudah ngga apa-apa Man, aku
ngerti kok. Tapi usahain jangan lama-lama ya Man”
“Udah dulu ya Don. Aku masuk dulu”
Doni agak lemas karena ia
berharap Amanda akan langsung menjawabnya, akan tetapi harapannya tidak sesuai
dengan kenyataan.
Hari demi
hari Doni lalui dengan harap-harap cemas karena Amanda belum memberikan jawaban
dari pertanyaannya waktu itu. Doni menjadi pesimis ketika semakin hari Amanda
semakin menjauh dari dirinya setelah Doni berbicara tentang perasaan yang
sebenarnya kepada Amanda. Entah apa penyebabnya namun itu membuat Doni seperti
kehilangan harapan untuk bisa memiliki Amanda. Ketika Doni hendak menuju
parkiran untuk mengambil motornya. Tiba-tiba dari belakang terdengar ada suara
yang memanggilnya dan ternyata itu Amanda. Doni terlihat senang sekali karena
jawaban yang diharap-harapkan akan diutarakan oleh Amanda. Akan tetapi ia harus
kembali bersabar karena Amanda akan memberikan jawabannya pada esok sore dilapangan
basket sekolah. Doni pun menyetujuinya.
*Keesokan harinya dilapangan
basket
Tibalah
saat yang ditunggu Doni, ia datang tepat waktu. Ia berpakaian rapi dan wangi.
Doni sangat berharap Amanda mau menerima cintanya. Ketika ia datang ke lapangan
basket. Doni kaget bukan kepalang karena ada Deni disana.
“Den, lu ngapain disini ?” tanya
Doni bingung
“Lah, lu sendiri ngapain disini
?” tanya balik Deni
“Yeee, lu malah balik nanya. Gw
kesini mau…”
Ketika Doni belum selesai bicara,
tiba-tiba…
“Hai Doni.. Hai Deni..” (suara Amanda yang datang tiba-tiba)
“Haahh.. Manda..” jawab kaget
mereka
Doni benar-benar tidak mengira jadi selama ini Deni juga kenal dengan Amanda. Amanda sengaja mengajak Deni karena secara tidak langsung Doni akan mengetahui bahwa Deni juga menyukai Amanda. Amanda dihadapkan pada dua pilihan, yang mana keduanya sama-sama orang yang baik menurutnya. Ketika mereka saling terdiam karena bingung, Amanda langsung memilih diantara keduanya. Disana juga ada Angel yang sengaja datang untuk menemani Amanda.
“Langsung aja ya, daripada kamu
berdua bengong. Mending aku utarain keputusanku aja ya. O iya sebelum itu, kalian berdua harus
ngebelakangin aku.” Ujar Amanda
“Maksudnya apaan Man, kok pake
gitu-gitu segala” tanya Doni
“Udah nurut aja, Don” celetuk
Deni
“Nah yang aku peluk dari belakang
itu berarti yang aku pilih” ucap Amanda
“Oke” (jawab mereka berdua)
Doni dan Deni pun segera membelakangi Amanda. Doni agak pesimis karena harus bersaing dengan temannya sendiri yang bisa dikatakan lebih tampan dibanding dirinya, mungkin saja Amanda akan memilihnya.
Dan tibalah waktunya…
Akhirnya yang dipeluk Amanda dari belakang adalah Deni. Doni pun tertunduk lesu, namun ia harus menerimanya. Doni pun memberikan selamat kepada Amanda dan Deni, lalu ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu walau dengan rasa kecewa yang menyelimutinya saat ini. Akan tetapi ketika Doni baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia dipeluk dari belakang. Lalu ia menengok ke belakang dan ternyata yang memeluknya adalah Amanda. Dan ia pun kaget melihat Deni merangkul Angel.
Belum sempat selesai bicara, Deni pun menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Don, maaf ya kita semua udah
ngerjain lu” ucap Deni
“Ngerjain ? Maksudnya apaan sih
nih gw ngga ngerti” kata Doni bingung
“Jadi kita bertiga udah kerjasama
mau ngerjain lu. Ngebuat lu kecewa beberapa saat karena Amanda milih gw. Gw
sama Amanda cuma sahabatan doang. Ya gw akuin memang dulu gw pernah suka sama
Amanda, tapi kan itu dulu. Sekarang gw lebih milih Angel jadi pacar gw.
Hehehe.. Amanda sering cerita banyak ke gw tentang lu. Gw sebenarnya agak kaget
ternyata yang lu suka itu Amanda. Sorry ya, sebenernya gw udah tau lu suka sama
Amanda. Cuma gw pura-pura ngga tau aja. Hehehe..” jelas Deni
“Wah, berhasil ya lu semua
ngerjain gw. Parah lah.. Hahaha..” ucap Doni sambil tertawa. “Eeee.. Jadiii lu
mau jadi pacar gw dong, Man ?”
Secara tiba-tiba Amanda berlari ke lorong menuju sebuah kelas. Doni pun kembali bingung, sebenarnya apa lagi yang hendak direncanakan Amanda. Akhirnya Doni menyusul Amanda yang berlari sangat cepat. Pada lorong sekolah terdapat kertas berbentuk panah menempel pada lantai yang menunjukkan arah ke sebuah kelas. Ia pun mengikuti arah panah tersebut. Doni kaget ketika melihat Amanda berdiri di depan kelasnya dengan nyala lilin-lilin kecil berbentuk “love” mengelilinginya ditambah suasana lorong yang agak redup membuat suasana makin amat romantis.
Secara tiba-tiba Amanda berlari ke lorong menuju sebuah kelas. Doni pun kembali bingung, sebenarnya apa lagi yang hendak direncanakan Amanda. Akhirnya Doni menyusul Amanda yang berlari sangat cepat. Pada lorong sekolah terdapat kertas berbentuk panah menempel pada lantai yang menunjukkan arah ke sebuah kelas. Ia pun mengikuti arah panah tersebut. Doni kaget ketika melihat Amanda berdiri di depan kelasnya dengan nyala lilin-lilin kecil berbentuk “love” mengelilinginya ditambah suasana lorong yang agak redup membuat suasana makin amat romantis.
“Man, maksud kamu apa ini semua
?” Tanya Doni
“Udah ikutin aja arah panahnya”
jawab Amanda
Doni mengikuti arah panah
tersebut dan masuk lah ia ke dalam kelas. Lalu ia duduk di bangku yg biasa
didudukinya. Dimeja tersebut ada seikat bunga mawar merah dan dua amplop. Doni
membuka amplop yang pertama dan isinya adalah……
Hai kamu yang duduk disana
Apakah kamu mengingat sesuatu saat berada
disana
Aku harap kamu ingat ketika untuk pertama
kalinya kamu melihatku
Aku sadar kamu sedang memperhatikanku
Mungkin kamu pikir aku tidak melihatnya
Padahal aku juga memperhatikanmu saat kamu
lengah
Dijendela itu……
Kita saling mencuri pandang
Dijendela itu……
Semua perasaan ini berawal
Dan semua itu berawal dari jendela
-
Amanda
Lalu Doni
menengok kearah Amanda. Dan Amanda pun tersenyum. Ia menyuruh Doni untuk
menuliskan apa harapannya ke dalam kertas yang satunya. Ketika Doni selesai
menulis, tiba-tiba saja Amanda menghilang. Doni pun bergegas mencarinya seraya
membawa bunga yang ada dimeja tadi. Akhirnya Doni menemukan Amanda. Dan
sekarang Amanda berdiri dengan sebuah balon udara berukuran sedang, tingginya
sekitar 1 meter yang terbuat dari kertas.
Amanda menaruh kertas harapannya ke balon udara itu, begitu juga Doni. Lalu mereka menerbangkan balon udara itu dan
memandanginya ke atas sambil tersenyum.
(ilustrasi)
“Semoga impian-impian itu terbang tinggi sama seperti harapan-harapan
kita ya” kata Amanda
“Iya semoga saja” jawab Doni sambil tersenyum melihat balon udara
yang sudah terbang tinggi
“Don, tadi kamu nulis apa dikertas itu ?” Tanya Amanda
“Aku berharap kamu jadi pacar aku. Kalo kamu nulis apa ?”
“Kalo aku… Aku mau kita sama-sama terus selamanya. Dan aku
juga mau kamu panggil akuu……”
“Panggil apa ?” Tanya Doni yang sangat penasaran
“Sayang” jawab Amanda sambil malu-malu.
Doni langsung memberinya bunga yang ia pegang. Dan mereka pun
berpelukan.
“Man, kok kamu romantis banget sih. Harusnya kan aku yang
romantis.” Tanya Doni dalam keadaan masih berpelukan.
“Ngga apa-apa untuk yang pertama kali aku yang romantis.
Besok-besok kamu lah.. Hehe…” jawab Amanda pelan.
---The End ---
Written by :Muhammad Yunan Adjie Pangestu
